082210183000
082210183000
081286101000

Buah Merah

Dalam bahasa daerah kami sendiri kami sebut “Tawy” dan “Wanggene” untuk membedakan antara Pandanus Fruit yang berwarna “merah” dan yang berwarna “kuning”. Jadi keduanya bukan buah merah, tetapi buah Tawy dan buah Wanggene.

Kami tidak jual Minyak Wanggene dikarenakan belum ada izin dari para tua-tua Adat kami. Yang kami jual sekarang ialah Minyak Tawy.

Tawy adalah sejenis buah pandan yang tumbuh di Pulau New Guinea.. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam karena tanaman Tawy termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan. Tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.

Kalau dilihat kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Tawy sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan yang disebut dalam bahasa Lani sebagai Wanggene (bukan Tawy).

Pandanus Conoideus Lam ialah nama ilmiah (Latin) dari Tawy. Dalam Tok Pisin disebut Morita. Sedangkan dalam versi Melayu lebih sering dipanggil “Buah Merah”. Dari tiga nama ini tergambar jelas nama “Tawy” punya sejarah dalam budaya orang suku Lani, sementara dalam versi Tok Pisin disebut Morita. Lalu nama latin menggambarkan hubungan “Tawy” dengan suku pandan lainnya. Sementara nama “Buah merah” tidak menjelaskan rumpun atau suku dari Tawy, tetapi hanya sebatas di kulit, dari sisi warnanya saja.

Secara logika sehat, “buah merah” atau buah yang berwarna merah bukan hanya “Tawy”, tetapi banyak buah lain seperti tomat, cabe, apel, buah naga, dan lain-lain buah berwarna merah bertebaran di seluruh dunia. Buah yang berwarna merah bukan hanya “Tawy” tetapi banyak buah di dunia. Lalu logika sehat kita menjadi sulit menerima mengapa hanya “Tawy” yang diberi nama “buah merah”, mengabaikan buah-buah berwarna merah yang lain.

Secara logika sehat pula, nama “buah merah” tidak patut diberikan kepada “Tawy” karena Tawy tidak hanya berwarna merah terang, tetapi juga ada berwarna merah gelap, dan apalagi ada yang berwarna hijau-emas (kuning hijau-emas), yang dalam bahasa Lani disebut Wanggene.

Apalagi dalam bahasa Lani kita sebut “Tawy” untuk buah Pandanus Conoideus Lam yang berwarna merah, dan “Wanggene” untuk Pandanus Conoideus Lam yang berwarna hijau-keemasan.

Jadi secara logika sehat, menyederhanakan nama “Tawy” dan “Wanggene” menjadi “Buah Merah” ialah suatu kesalahan logika yang fatal, sekaligus memalukan. Ya, memalukan pertama-tama yang memberi nama “buah merah” kepadanya, dan kedua bagi kami yang sampai hari ini masih menggunakannya.

 

Peran Tawy sebelum Penemuan

Buah merah di Tanah Papua dijadikan bukan sebagai “suplemen” atau “jamu” tetapi sebagai lauk yang bernilai sosial tinggi. Ada juga menjadi makanan pokok, bukan lauk lagi.

Di pegunungan Tanah Papua menempatkan posisi Tawy dan Babi sebagai produk makanan yang bernilai sosial tinggi. Contohnya kalau saya mengundang teman atau sanak-saudara untuk mengerjakan kebun saya dan sebagai imbalannya saya masak Tawy atau Babi, maka banyak orang akan datang. Akan ada cerita atau pemberitaan tersiar, “Bapak A ada undang kami kerja, dan dia masak buah merah.” Ini akan mengundang banyak orang. Itu baru satu saja nilai sosial dari Tawy buat kehidupan orang Wamena, pewaris buah surga, Tawy dan Wanggene (Buah Pandan Merah dan Buah Pandan Kuning).

Perlu diketahui bahwa orang Wamena sebenarnya menempatkan Wanggene lebih dekat dengan daging daripada buah.

 

Penemuan Buah Merah dan Khasiat Buah Merah bagi Kesehatan Manusia

Buah merah atau Minyak Tawy dan manfaatnya bagi kesehatan manusia dalam kaitannya dengan berbagai penyakit pertama-tama diperkenalkan oleh Bapak Made, atau nama lengkapnya  Dr. I Made Budi, M.Sc.

Sebelum itu, ada beberapa mahasiswa yang pernah meneliti tentang Buah Merah. Salah satunya ialah mahasiswa Program Studi Kimian, FKIP, Universitas Cenderawasih, Nico Yomaki. Fokus penelitian Nico Yomaki ialah mengangkat makanan khas Papua untuk dijadikan sebagai makanan “mainstream” di Tanah Papua. Tetapi fokus penelitian Pak Made yang menjadi terobosan besar bagi kami tentang Tawy dan kesehatan manusia.

Sejak temuan Pak Made terekspose ke media dan ke seluru masyarakat, maka Minyak Tawy telah memasuki masa keemasannya, mulai awal abad ini.

Hal yang berbeda terjadi pada kami orang Wamena sendiri. Kami malahan tidak terlalu mengira kalau Buah Merah ini akhirnya akan menjadi komoditas supplement yang bernilai tinggi dan mahal pula.

Karena kami secara alamiah mengenal buah merah bukan sebagai barang dagangan, maka kami juga tidak terlalu menanggapi peluang bisnis minyak buah merah.

Kenapa Kami harus Jualan Buah merah?

Walaupun tidak ada niat secara alamiah untuk mencari uang dengan menjual Tawy kepada siapa-siapa-pun yang ada di luar sana, kami terpaksa harus terjun ke dunia bisnis Minyak Tawy gara-gara dua alasan:

  1. Pertama karena sejak temuan Pak Made tentang khasiat Buah Merah, maka sudah banyak orang lain yang hanya berorientasi CARI UANG menjual Minyak Buah Merah dengan berbagai upaya membujuk pembeli di mana-mana. Malahan sampai mencampurkan Minyak Tawy dengan minyak-minyak lain seperti Minyak Zaitun, minyak pengharum dan sebagainya. Ada yang lebih jahat lagi, mereka mencampurkan Minyak Tawy dengan Kecap, agar kelihatan merah-kehitaman.Dari satu sisi kami tidak keberatan orang menjual-belikan Minyak Tawy untuk mendatangkan keuntungan uang. Tetapi di sisi lain menjadi pertaruhan harga diri orang Wamena bahwa ada orang yang mempermainkannya dengan mencampur dengan bahan lain yang Tawy sendiri tidak pernah kenal sejak ia ada di Bumi Cenderasih. Ini perbuatan tercela menurut Hukum Alam Universal karena merusak nama Buah Merah sendiri, merusak kesehatan manusia yang membelinya dan merusah harga-diri pemilih hak waris Tawy, masyarakat Koteka di pegunungan Tanah Papua.
  2. Karena ada pemalsuan yang marak ini, maka permintaan-pun banyak muncul. Banyak juga orang bertanya, “Kenapa orang Papua sendiri nggak jualan ya?” Ditambah lagi dengan cerita tentang permintaan orang di pulau Jawa yang akhirnya gagal dipenuhi membuat kami harus terpaksa turun tangan menjual buah warisan ini sendiri.